Sabtu, 21 Februari 2015

DI BALIK GUNDUKAN BARANG BEKAS (cerita dibalik pendirian comdev FIP UNJ)

Ditulis pada, 2 Februari 2012 pukul 12:41

---------------------
Kawan, pernahkah kau bayangkan bahwa setiap sesuatu yang ada di dunia ini tidakkah kekal????? Apa yang kau miliki adalah sebuah anugerah yang sangat luar biasa jika kau pikirkan lebih dalam kawan. Belajarlah dari kisah ini kawan, sebuah kisah yang sangat inspiratif, kisah yang tanpa rekayasa sedikit pun, dijamin 100% asli..

Kisah ini berasal dari pengalaman gw waktu punya rencana buat ng’diriin Community-Development bareng temen-temen kampus tercinta gw (UNJ) yang tergabung di tim aksi FIP Green Team (FGT). “pejuang tak butuh dikenal”, mungkin ungkapan inilah yang pantas kiranya untuk disematkan kepada seorang ibu yang berstatus sebagai ibu rumah tangga yang tinggal di pemukiman kumuh dibilangan pasar Sunan Giri, Jakarta Timur. Panggil saja ia ibu Meri, Sosok wanita inspiratif yang punya semangat yang sangat luar biasa. Seorang wanita yang memiliki dua anak ini sangat peka terhadap lingkungan social sekitar rumahnya. Wanita yang rela mengorbankan hartanya meskipun suaminya hanya bekerja sebagai seorang Office Boy di salah satu kantor di wilayah Utan Kayu, Jakarta Timur. Dengan penuh semangat yang tinggi, di dorong dengan motivasinya yang teramat mulia, sang ibu rela meluangkan waktunya untuk sebuah perubahan yang berarti untuk lingkungannya. Ibu Meri rela membagi tanahnya yang dimilikinya untuk mendirikan sebuah tempat ibadah (musholla) kecil dengan ukuran tidak lebih dari 8x5 meter. Musholla kecil itu ia beri nama Musholla At-Taubah. Musholla itu didirikan atas dasar keprihatinannya dengan keadaan lingkungan tempat ia bermukim yang tidak sama sekali mengenal Tuhan, hanya segelintir orang yang memeluk agama. Sebuah keprihatinan, ditengah kemajuan zaman. Salah satu bukti yang real, hasil dari ketidaksiapan manusia dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat, dan tidak dibarengi dengan kesiapan mental dan pengetahuan spiritual manusia. Ibu Meri yang ternyata berlatar belakang seorang mualaf itu juga berinisiatif mendirikan sebuah Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) untuk anak-anak yang tinggal di lingkungan tersebut. Tidak pernah disangka oleh ibu Meri sebelumnya memang karena partisipasi anak-anak di lingkungan tersebut sangatlah besar, motivasi mereka murni semata-mata untuk mengenyam pelajaran agama. Bukan merupakan hal yang mudah memang ketika di awal pendiriannya. Tidak sedikit masyarakat yang memiliki ‘keyakinan’ agama yang berbeda menentang pendiriaan musholla sekaligus Taman Pendidikan Al-Qur’an tersebut. Meskipun dengan aral yang menentang dan duri yang menghalangi jalan juangnya, ibu Meri memiliki semangat yang luar biasa.
Nah Ini dia Ibu Meri :D

Kawan, Sosok yang inspiratif seperti bu Meri, sangatlah jarang kita temui di masa sekarang. Kalaupun ada pasti jumlah perbandingannya hanya 1:100 saja. Agen-agen perubahan seperti Ibu Merilah yang semestinya menjadi panutan dan contoh untuk kalian wahai Mahasiswa yang mengaku sebagai Agent of change, kalian yang mengaku sebagai pahlawan pejuang rakyat!!!!! Jangan hanya bergerak untuk aksi dengan orasi-orasimu saja!! Bukan hanya dengan sindiran dan propagandamu saja, tapi wujudkanlah dengan kontribusi nyatamu membangun negeri !!! Cek juga kegiatan kita di Rumah Belajar Teras Koalisi Sudah saatnya kawan, Bergeraklah untuk Indonesia tercinta!!!!

DEMOKRASI DAN POLITISASI #PejabatBikinSusahAjah Bagian 1

30 September 2014 pukul 11:43

----------------------------------------------------------------
Secara langsung, ada dua makna yang teramat berbeda maknanya antara demokrasi da politisasi. Mari tengok kembali dalam kamus besar bahasa Indonesia. (1) de·mo·kra·si /dĂ©mokrasi/ n Pol 1 (bentuk atau sistem) pemerintahan yg seluruh rakyatnya turut serta memerintah dng perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat; 2 gagasan atau pandangan hidup yg mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yg sama bagi semua warga negara; (2) politisasi /po·li·ti·sa·si/ n hal membuat keadaan (perbuatan, gagasan, dsb) bersifat politis *Sumber : http://kbbi.web.id* Ditengok dari arti makna yang ada jelas ada perbedaan tentu. Dimana esesnsi makna dari kata demokrasi adalah persamaan hak bagi setiap warga negara yang berarrti artinya petistiwa ini berlangsung sesuai dengan fitrah yang ada, sangat berbeda dengan politisasi esesnsi makna dari kata ini adalah peristiwa yang dibuat atau diciptakan. Oke, tulisan ini tulisan lepas. So, pikir positif dan santai ajah oke. Saya bukan aktivis partai politik mana pun, bukan juga pengamat politik nasional, atau bahkan konsultan politik, atau politikus apalagi. Hanya mahasiswa Ibukota yang belajar dan asik mengamati berbagai hal termasuk politik. Akhir akhir ini orang orang di jagat media sosial sangat gencar dan tergonjang ganjing dengan beberapa isu dan fakta. Salah satu hal yang ng hits dan jadi bahasan adalah UU Pilkada yang pada akhirnya di putskan pemilihan melalui DPRD dan termasuk UU MD3 (Ga Terlalu banyak jd bahasan, tp cukup nghits)

Inilah Indonesia, yang dengan tingkat kekepoan masyarakatnya yang tinggi, ini menunjukkan sedikit banyak tentang beberapa fakta bahwa itu bentuk kepedulian masyarakat terhadap bangsanya indonesia yag sangat tinggi. Sedikit isu atau fakta, kemudian Banyak orang dengan seketika bicara dan seakan sangat paham tentang politik (termasuk gue mungkin). Bicara UU Pilkada yang diputuskan pada sidang paripurna pada tanggal 25 September 2014, benar benar mengguncang psikologis beberapa orang. Lihat saja banyak orang membuka kebaikan kebaikan atau keunggulan Pemilu melalui DPRD, ada juga yang kemudian menghujat secara terang terangan partai pengusung Pemilu melalui DPRD. Sempat menyaksikan berlangsungnya rapat paripurna di televisi, berlangsung ‘a lot’ dan kaku, sampai emosi dan kelakuan “wakil rakyat” di gedung keong dini hari waktu itu. Sempat menggelengkan kepala dan tarik napas dalam waktu itu. Terbesit pikiran, apa kemudian yang mereka bela disana murni atas dasar kepentingan semua rakyat Indonesia? (Wallahualam) Pada pemilu tahun 2014 ini, partai yang dahulu pernah jadi oposisi kemudian melanggengkan kadernya menjadi Presiden. Hanya di pemilu saat ini, nampaknya jadi pemilu yang ketat dan berlangsung panas. Terdapat 2 poros kekuatan koalisi parta politik, masing-masing saling adu kekuatan dan adu strategi untuk menang waktu itu. Sebut saja PDIP beserta beberapa kroninya dalam politik yang memiliki Platform sejarah ideologi yang sama. Sebut saja PDIP dengan platform ideolog marhaenisme, PKB dengan ideologi pluralisme, Hanura dan Nasdem. Adapula koalisi yang disebut koalisi merah putih, sebagai anggota koalisi yang memiliki anggota lebih banyak dari koalisi parpol lawannya. Sama pun kemudian koalisi ni terbentuk atas dasar kesamaan platform ideologi yang mereka bawa. Sebagai koalisi yang belum berntung pada pemilu tahun ini, saya rasa mereka sudah punya banyak langkah strategis untuk merancang gerakan dalam menjalai perannya sebagai oposisi pemerintahan. Sebagai rakyat indonesia gua coba berpikir sesuai cara berpikir gua sendiri. Sebagai anak muda terlepas dari kalian yang membaca ini termasuk mahasiswa simpatisan partai politik (jangan dinafikkan juga lah yah) atau biasa ajah. Kalo saya boleh berpendapat coba deh mikir bareng pake pemikiran murni dan hati nurani, sepenuhnya kalo saya boleh berpendapat tentang Undang undang, koalisi dan setumpuk kepentingannya. Jujur muak dengan ulah penjabat, hal hal yang berbau partai politik, kepentingan dan berbagai langkah yang mereka tempuh selama ini. Contoh langkah yang diusung mereka adalah produk undang-undang yang mereka gulirkan ini. UU Pilkada misalnya. Hanya ada dua pilihan. Dipilih langsung atau dipilih melalui DPRD. Masing masng koalisi pada ‘ngotot’ mempertahankan argumennya, dengan dalih “MEMBELA RAKYAT” padahal saya pikir itu semata hanya langkah mereka untuk merealisasikan kepentingannya. Jangan sangka koalisi yang menginginkan pilkada langsung oleh rakyat kemudian bergerak dan ‘ngotot’ mengatasnamakan rakyat. Bohong! Kita coba ‘tilik’ sedikit tentang hal ini. Koalisi Partai banteng yang dipimpin mba banteng dan pak presiden joko beserta kroni partai anggota koalisinya menginginkan pilkada langsung dipilih oleh rakyat. Hal ini sudah dapat dipastikan diusung oleh mereka, bagaimana tidak anggota parpol pemenang pemilu ini memeliki anggota lebih sedikit dari koalisi sebelah. Wajar saja jika mereka menginginkan pilkada langsung karena kader partainya yang menang sebagai kepala daerah jumlahnya sangat tidak sebanding dengan koalisis lawannya. Apalagi kader partai yang memegang kekuasaan di ranah legislatif daerah. Jelas dengan hal ini menjadi hal yang sangat “mengancam” kader partai selanjutnya untuk menduduki posisi kepala daerah jelas. Koalisi merah putih yang dipimpin bapak wowo, memiliki anggota parpol yang bisa dibilang cukup banyak. Koalisi yang kalah pada pemilu tahun ini, mencoba untuk menggugat hasil pemilu waktu itu, namun tidak satupun gugatannya di kabulkan Mahkamah Konstitusi, padahal mereka berusaha mengumpulkan bukti autentik guna menggugat hasil pemilu dan mengadakan pemilu ulang waktu itu. Karena kekalahannya inilah kemudian mereka mencoba memutarbalikkan keadaan dengan pasti langkah strategis cara untuk melanggengkan kembali powernya untuk mendapatkan posisi kusrsi pemerintahan. Sebagai pengusung pilkada tidak langsung (dipilih melalui DPRD) ini pasti sedang ‘uncang angge’ atas keputusan sidang paripurna di DPR RI kamis lalu. Artinya langkah mereka menguasai bangku pemerintahan daerah dan memonopoli kursi pemerintahan akan sangat mudah walaupun tidak menang (red: kalah) pemilu 2014. Dengan kemenangannya inilah beberapa kadernya sibuk memberikan pemahaman bahwa proses pemilihan melalui DPRD pun merupakan bagian dari sistem demokras yang sah di Indonesia atas dasar sila ke-4. Banyak anggota atau kader atau simpatisannya melakukan hal ini melalui sosial media (termasuk beberapa kawan saya sesama mahasiswa aktivis berpartai politik melakukan hal itu) Selayaknya masyarakat sadar dan paham akan hal ini, berbagai partai politik yang ada beserta denga kepentingan elitnya sangat jarang ada yang bergerak atas dasar pemikiran atay bahkan ketulusan hatinya membela rakyat, -walaupun tak dinafikkan (mungkin) ada yang kemudian sedikit orang yang tergerak hatinya untuk kepentingan rakyat, namun pasti jumlahnya sangat sedikit-. Yang ada kemudian justru rakyat yang banyak dijejali dan di ‘cocok’ hidungnya bak kerbau yang bekerja hanya untuk kepentingan si ‘tukang angon’nya semata. Sedikit lempar isu kemudian stabilitas politik dan tak jarang nasib rakyatlah yang jadi korbannya. Mirisnya sebagian besar dari mereka kemudian bergerak atas nama kepentingan rakyat. Padahal justru rakyat yang jadi ‘alat’ kepentingan mereka guna melanggengkan kadernya mencapai puncak kekuasaan. Alih alih membela, namun justru langkahnya membuat stabilitas politik dan keamanan negeri jadi semrawut. Sangat jauh melenceng dari cita cita dan makna dari demokrasi itu sendiri. Padahal pada awal kemunculannya demokrasi adalah sebuah konsep yang berusaha menjangkau aspirasi masyarakat dalam korelasi masyarakat dan negara. Sejarah Demokrasi dalam pengertian secara etimologis adalah dari rakyat dan untuk rakyat. Artinya demokrasi sejatinya adalah sebuah konsep yang menginginkan keseimbangan kepentingan rakyat menuju proses sejahtera, damai baik lahir dan batin. Repotnya, dalam perkembangan demokrasi itu sendiri banyak pelakunya melanggar cita-cita luhur penerapan sistem demokrasi. Dalam banyak kasus demokrasi di Indonesia banyak dibajak pelaku elit politik yang pragmatis sehingga menodai makna awal demokrasi. Adanya pelanggaran ini menghasilkan banyak kekacauan seperti kerusuhan massa, kegaduhan perpolitikan nasional dan korupsi politik. Ini terjadi karena kekisruhan paradigma berdemokrasi yang salah kaprah oleh pelaku politik negeri ini. Dan yang paling mengkhawatirkan juga adalah banyak media nasional yang memainkan isu melalui diundangnya narasumber yang sejalan dengan platform media mereka agar membentuk opini publik yang relevan dengan tujuan mereka (red:media). Jelas tak disangsi kan pasti karna media pun milik mereka elit politik memang haha. Padahal setiap media wajib memberikan info yang independen dan berimbang karna bertanggung jawab atas dasar tanggung jawabya sebagai pers. JADI SISTEM YANG INDONESIA ANUT SAAT INI DEMOKRASI ATAU POLITISASI ??? Tanya pada rumput yang bergoyang. Namanya juga politik.. *Tarik Napas* #PejabatBikinSusahAjah

Lahir Kembali

Asslmu'alaikum, Salam Sejahtera.. wohoo~

Lahir kembali kayanya cocok buat tulisan ini. Yap, udah genap sejak satu tahun yang lalu blog gapernah gue buka buka acan. Hahaha (Siapa Nanya) oke. kali ini gue sebagai senior di Kampus (red: Hampir expired) berasa agak malu sama adek-adek gue di kampus. apalagi sama angkatan baru, ah tapi tetep gue yang paling keren diantara mereka Haha. Jadi awal mulanya gua semangat nulis lagi itu karena adek adek gua, berawal dari skill kepo gua yang luar biasa, nyoba cek beberapa akun sosial media adek baru gue. dan wow tulisan, kutipan, dan beberapa kisah inspiratif banget gue temuin di salah satu blog adek kelas gue. Sebut saja Davin, cek akunnya ->> Davin dan ternyata ga cuman dia, tapi ada satu orang lagi yang sering gue kepoin blog pribadinya, kali ini seorang wanita namanya Nilam, sebut saja nilam, namanya keren coba juga mampir nih ke blognya ->> Nilam . berawal dari dua adek gua inilah semangat gua muncul lagi, yaa lebih tepatnya 'Lahir Kembali', haseeek *Kibas Rambut*. tulisan mereka, dan blog mereka yang super rapih dan keren gua pikir jadi inspirasi tersendiri buat gue. Semangat Muda dan semangat nulisnya itu menggambarkan banget ciri khas anak muda yang Insyaallah bakal nerusin perjuangan gue dikampus tercinta ini. ;) Oke, setelah sekian lama vakum dr aktifitas blogging, sekarang gue mulai semangat lagi nih. yaiyalah udah terbebas ini blog dari bulan bulanan dosen gua yang itu, sebut saja (ah, gausah disebut) semoga si bapak dosen ga maen lagi ke blog gue ini yah hahaha salam hormat pak dosen. rasanya udah numpuk banget ini tulisan di file netbook gue, segera di entri lagi ke blog ini. kalo pun gaaada yang baca, yaudah lah yah buat kenang-kenang gue masa depan ajah ahooyyyy.. See You :D

Jumat, 31 Mei 2013

KEPUASAN PELANGGAN

REPORTASE Universitas Negeri Jakarta, senin (27 Mei 2013). Perkuliahan manajemen pemasaran jasa peretemua terakhir dalam semester empat. Ditutup dengan presentasi atau paparan oleh kelompok terakhir. Pemaraparan terakhir membahas terkait dengan kepuasan pelanggan. Berbicara tentang kepuasan pelanggan, kepuasaan pelanggan adalah hal mutlak dalam pembahasan marketing atau manajemen pemasaran jasa dalam bidang bisnis. Pada dasarnya setiap kegiatan usaha kepuasan pelanggan adalah hal yang layak diperhatikan. Artinya pun kemudian dalam dunia usaha simbiosis mutualisme atau ikatan dan kerjasama saling mengntungkan satu sama lainnya. Kepuasan pelanggan terjadi ketika adanya kesesuaian antara harapan dengan kenyataan riil. Harapan dan kenyataan ini juga terjadi kerika ada dua hal yaitu pelangggan telah merasakan produk atau menggunakan jasa, dan perusahaan telah menyiapkan fasilitas yang memadai sebagai bentuk usaha dari perusahaan melayani pelanggan atau pengguna jasa. Setiap periusahaan selayaknya memilki target terkait dengan kepuasan pelanggan, target-target yang berkaitan dengan kepuasaan pelanggan dituangkan terhadap program cara mengukur kepuasan pelanggan. Ada beberapa hal yang menjadi bahasan dalam cara mengukur kepuasan pelaggan yang dapat dilakukan oleh perusahaan atau lembaga penyedia jasa, diantaranya adalah (1) pendekatan sistemik, analisis kebijakan, (2) keluhan dan saran atau pembukaan hotline saran, keluhan, (3) analisis kehilangan atau loss customer analysis, (4) survey kepuasan pelanggan secara langsung, (5) ghost shopping atau pembeli gelap. Kuliah berakhir pukul 10.00 WIB pertemuan terakhir pun ditutup dengan kesimpulan yang dipaparkan oleh audiens sebagai bentuk tanggung jawab terhadap materi yang telah disampaikan oleh kelompok penyaji.

Kamis, 23 Mei 2013

CUSTOMER BEHAVIOR (PERILAKU KONSUMEN)

REPORTASE Universitas Negeri Jakarta, senin 20 Mei 2013. Perkuliahan Manajemen Pemasaran Jasa Pendidikan dimulai seperti biasanya pukul 08:30. Pemaparan kelompok pada pertemuan kali ini membahas terkait tentang customer behavior (perilaku konsumen). Berbicara tentang perilaku ada dua hal yang kemudian saling berkaitan dengan Aspek internal dan aspek eksternal. Aspek internal yang mendasari seseorang berperilaku adalah kenutuhan atau keinginan yang ada dalam diri seseorang. Kebutuhan dalam hal ini berkaitan dengan teori kebutuhan Abraham Maslow yang terdiri dari lima hal. Menurut teori kebutuhan maslow hal yang mendasari kebuthan tersebut berkaitan dengan konsep diri atau fisiologis, social, kepercayaan dan mental. Sedangkan, aspek eksternal yang mendasari perilaku seseorang sangat erat kaitannya dengan ekonomi (daya beli), lingkungan ekonomi, demografis, sosiologis, politis, dan IPTEK (Ilmu pengetahuan dan technology). Perilaku konsumen dalam pemasaran jasa pada khusuSnya dipengaruhi oleh Kebudayaan, kelas social, kelompok acuan, keluarga, pribadi yang berkaitan dengan gaya hidup. Ada beberapa point yang berkaitan dengan perilaku pembeli (1) perilaku pembeli yang kompleks, (2)perilaku konsumen yang mengurangi ketidakcocokan, (3) perilaku konsumen berdasarkan kepada kebiasaan, (4) perilaku konsumen yang mencari keberagaman. Seorang marketer kiranya mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan customer behavior, dalam pelaksanaannya dengan mempelajari aspek atau segala hal yang berkaitan dengan perilaku konsumen memiliki urgensi sebagai berikut: a. Harapan pelanggan terhadap kualitas atau manfaat suatu produk b. Karakteristik pelanggan terhadap respon beli konsumen c. Sikap consumen terhadap atribut produk d. Kebutuhan dan motivasi konsumen terhadap atribut produk e. Kepuasan konsumen terhadap pelayanan distributor f. Tanggapan terhadap iklan g. Persepsi pelanggan terhadap customer delivered value h. Persepsi pelanggan terhadap nilai Setiap marketer selayaknya memiliki perencanaan strategy yang matang dalam menjalankan fungsinya, sehingga kinerja marketer produk atau jasa lebih terarah dan sistematis dan hasi penjualan pun kemudian dapat menghasilkan nilai lebihatau maksimal untuk perusahaan ataupun lembaga.

Rabu, 15 Mei 2013

KUALITAS JASA PENDIDIKAN

REPORTASE Universitas Negeri Jakarta, Senin, 13 Mei 2013. Perkuliahan dimulai seperti biasanya pukul 08.30, paparan dari kelompok penyaji. Kualitas jasa pendidikan berkaitan dengan citra lembaga atau instansi pendidikan penyelenggara. Ada beberapa dimensi yang berkaitan dengan kualitas jasa pendidikan, diantaranya adalah Reliability berkaitan dengan Kehandalan, Responsivenes berkaitan dengan daya tanggap, assurance atau asuransi, tangiable berkaitan dengan sesuatu yang abstrak atau tidak mampu dilihat. Ada beberapa alasana yang kemudian pada akhirnya kualitas pendidikan penting diperhatikan dalam lembaga atau instansi pendidikan. Berikut merupakan alasannya: (1) reputasi lembaga atau instansi, kualitas lembaga pendidikan dangat erat kaitannya terhadap reputasi lembaga pendidikan yang berkaitan, (2) kehandalan produk, (3) keterlibatan global. Kualitas jasa pendidikan seperti halnya pemasaran pada umumnya dalam dunia bisnis, persaingan internasional antar lembaga menjadisalah satu hal yang patut dipertimbangkan dalam pemasaran jasa pendidikan. Kualitas jasa pendidikan berkaitan pula dengan konsep Total Quality Management (TQM). Lingkaran bahasan dalam konsep TQM ini terbagi dalam beberapa bagian proses manajemen, diantaranya adalah Plan, Do, Act, Check. Komponen terukur dari bidang jasa terdiri dari merancang produk jasa, ekspektasi pelanggan adalah hal yang penting. Selain dari pada hal itu, kesenjangan yang terjadi dalam kualitas jasa: 1) Kesenjangan harapan konsumen dan persepsi manajemen 2) Kesenjangan persepsi manajemen dan spesifikasi mutu jasa 3) Kesenjangan spesifikasi kualitas jasa 4) Kesenjangan penyerahan jasa dan komunikasi eksternal 5) Kesenjanagan persepsi jasa dan jassa yang diharapkan. Perkualiahan berakhir dengan penjelasan terkait kualitas dan korelasinya pendekatan system dalam pendidikan. Setelah pertanyaan selesai untuk dijawab, maka Bapak Amril kembali menjelaskan materi kualitas jasa yang lebih spesifik di bidang pendidikan dengan mencontohkan pengelolaan pendidikan dalam konsep input, proses, dan output. Dimana iput terdiri dari peserta didik, instrumen SKL, pendidik, isi, sarpras, pembiayaan, letak geografis dan demografis. Ptoses diartikan dengan adanya proses pembelajaran bagi peserta didik yang menjadi sebuah strategi jasa, dan output yag dihasilkan berupa penilaian untuk peningkatan, kemampuan, pengetahuan, keterampilan, kecakapan, dan kesiapa bagi peserta didik. Perkuliahan kali ini berakhir pada pukul 10.30 WIB dan diakhiri dengan penjelasan prosedur UAS yang akan dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2013.

Kamis, 09 Mei 2013

PROMOSI JASA PENDIDIKAN

RREPORTASE Universitas Negeri Jakarta, Senin 6 April 2013. Tak seperti biasanya seni pagi, perkuliahan pada kali ini tidak dibimbing langsung oleh dosen pengampu Mata Kuliah Manajemen Pemasaran, beliau tidak hadir dikarenakan adanya keperluan yang tidak dapat ditinggalkan. Namun perkuliahan tetap berjalan dengan pemaparan dari pemateri. Materi yang dibahas dalam pertemuan ini terkait dengan promosi jasa pendidikan. Bicara terkait pemasaran, seprti halnya telah disinggung dalam beberapa pertemuan sebelumnya, seperti bahasan bauran pemasaran dan lain-lain. Promosi dalam pemasaran adalah bentuk usaha komunikasi dari produsen kepada pelanggan atau konsumen. Bagaikan siklus yang terus berputar, dalam proses bisnis dan pemasaran produk atau jasa, promosi menjadi hal yang memiliki urgensi yang sangat menentukan jalannya siklus serta tidak dapat dipisahkan dalam pemasaran. Promosi secara umum selain bertujuan untuk menkomunikasikan hasil produk atau jasa tetapi juga mendorong penjualan produk atau jasa. Promosi sering digunakan dalam pemasaran biasanya berbentuk iklan dalam media cetak (Koran, tabloid, atau majalah) atau media elektronik (tivi, ataupun internet). Dalam pemasaran jasa, jasa pendidikan khususnya proses promosi merupakan proses yang teramat penting. Promosi jasa yang kreatif dan memiliki daya tarik menjadi salah satu faktor pengaruh berkembangnya pemasaran jasa yang bersangkutan. Ada beberapa faktor yang kemudian mempengaruhi perkembangan cepat atau lambatnya promosi jasa, diantaranya adalah (1) keadaan internal dalam lembaga atau instansi pendidikan tersebut. Keadaan lembaga menjadi penting dalam promosi keadaan keuangan atau modal, atau bahkan stabilitas kekuasaan. (2) keadaaan eksternal, semakin banyak competitor atau persaingan dengan merk atau metode yang sama dan tidak terlalu diferensial sagat mempengaruhi promosi. Maka dari itulah kemudian lembaga pendidikan dituntut untuk selalu membuat inovasi perkembangan cabang ilmu pendidikan dengan metode yang baru dan belum dimiliki oleh instansi lainnya. (3) batasan hukum, media atau kebiajakan pemerintahan turut berpengaruh terhadap perkembangan promosi jasa pendidikan. Pada dasarnya promosi memiliki tujuan jangka panjang dan jangka pendek, tujuan jangka panjangnya adalah meningkatkan hubungan kinerja atau kerjasama antara pelanggan atau konsumen dengan pengelola. Perkuliahan pada hari senin ditutup dengan diskusi kecil dalam kelas terkait beberapa aspek yang kemudian layak dipertimbangkan dalam promosi jasa pendidikan khususnya seperti halnya visi dan misi lembaga pendidikan, fasilitas, keuntungan atau kelebihan lain yang diperoleh dan belum dimiliki oleh lembaga pendidikan sejenis lainnya.